Jakarta (ANTARA) – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dan Kementerian Agraria dan Tata Ruang (ATR) menyiapkan lahan seluas 24.000 hektar di Pulau Jawa untuk mendukung program Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) 100 GW.
Berdasarkan identifikasi kami, tersedia lahan di Pulau Jawa sekitar 24.000 hektare, kata Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung, Jumat.
Dia menjelaskan, lahan seluas 24.000 hektare tersebut akan ditindaklanjuti dengan verifikasi bersama antara pihaknya, Kementerian ATR, Perusahaan Listrik Negara, PT PLN.
Selanjutnya, pemerintah akan menyambungkan infrastruktur, termasuk jalur transmisi dan ketersediaan gardu induk PLN hingga pembangkit listrik yang berlokasi di lahan seluas 24.000 hektare itu.
Pada tahap awal, pihaknya akan memprioritaskan percepatan proyek 17 gigawatt (GW) terlebih dahulu.
“Kami juga memiliki penyimpanan energi baterai (BESS) sekitar 33 gigawatt,” imbuhnya.
Disampaikannya, pemerintah sedang mempersiapkan tahap awal pengembangan pembangkit listrik tenaga surya berkapasitas 17 gigawatt (GW) sebagai bagian dari proyek besar PLTS 100 GW yang didorong untuk mendukung transisi energi nasional.
Sementara itu, Staf Ahli Menteri ESDM Bidang Perencanaan Strategis Jisman P. Hutajulu menyatakan, pemerintah menargetkan total kapasitas pembangunan PLTS sekitar 100,7 gigawatt peak (GWp) yang dipadukan dengan sistem penyimpanan energi baterai (BESS) sebesar 145,8 gigawatt hour (GWh).
Program ini terbagi dalam dua skema utama, yaitu PLTS skala besar yang terkoneksi dengan jaringan listrik nasional, dan penyaluran PLTS skala kecil hingga menjangkau wilayah terpencil dan desa.
Untuk pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) skala besar, kapasitas yang direncanakan sekitar 87,5 GWp didukung oleh BESS sebesar 111 GWh.
Sedangkan PLTS yang terdistribusi ditargetkan mencapai 13,2 GWp, dengan kapasitas BESS sekitar 34,8 GWh.
Dari sudut pandang ekonomi, pemerintah memperkirakan tarif listrik untuk pembangkit listrik tenaga surya skala besar sebesar 5,5 hingga 25 sen AS per kWh, sedangkan pembangkit listrik tenaga surya skala kecil diproyeksikan sebesar 9 hingga 40 sen AS per kWh, tergantung pada kapasitas penyimpanan.
Lebih lanjut, proyek pembangkit listrik tenaga surya berkapasitas 100 GW diperkirakan membutuhkan investasi sekitar US$71,3 miliar.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menargetkan pengembangan kapasitas pembangkit listrik tenaga surya sebesar 100 GW antara tahun 2026 hingga 2028. Hal ini dinilai sangat ambisius, mengingat kapasitas terpasang tenaga surya saat ini hanya berkisar 1,5 GW.
Berita terkait: Konversi ke pembangkit listrik tenaga surya dapat menghemat hingga US$4,18 miliar: pemerintah
Berita terkait: Indonesia mempercepat program tenaga surya 100 GW di tengah tarif AS
Translator: Putu Indah S, Resinta Sulistiyandari
Editor: M Razi Rahman
Copyright © ANTARA 2026












