Jakarta (ANTARA) – Pusat Kajian Kebijakan Publik (Puskepi) mengatakan penguatan tulang punggung ketenagalistrikan di Sumatera sangat penting untuk meningkatkan ketahanan listrik di Indonesia setelah pemadaman listrik skala besar baru-baru ini menunjukkan kerentanan dalam sistem jaringan listrik yang saling terhubung di pulau tersebut.
Direktur Puskepi Sofyano Zakaria mengatakan strategi tersebut meliputi perluasan jaringan transmisi 500 kilovolt (kV), 275 kV, dan 150 kV yang dituangkan dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) Indonesia 2025-2034.
“Memperkuat tulang punggung ketenagalistrikan di Sumatera akan menciptakan sistem jaringan listrik yang lebih terintegrasi dari Aceh hingga Lampung,” kata Zakaria dalam keterangannya, Rabu.
Dia menambahkan bahwa pembangkit listrik yang tanggap cepat, sistem perlindungan yang ditingkatkan, dan pemeliharaan digital prediktif juga diperlukan untuk meningkatkan stabilitas jaringan.
Zakaria mengatakan pemadaman listrik yang terjadi baru-baru ini di Sumatera harus dilihat dalam konteks yang lebih luas, mengingat bahwa negara-negara maju juga mengalami gangguan listrik yang besar.
“Pemadaman listrik besar-besaran tidak hanya terjadi di Indonesia,” ujarnya.
Dia mencontohkan pemadaman listrik di Australia Selatan pada tahun 2016, ketika cuaca ekstrem memicu kegagalan transmisi di seluruh jaringan listrik.
Inggris juga mengalami gangguan listrik besar-besaran pada tahun 2019 yang mengganggu sistem transportasi dan menyebabkan pemadaman listrik secara luas, tambahnya.
Baru-baru ini, Spanyol dan Portugal mengalami pemadaman listrik skala besar yang memerlukan upaya normalisasi jaringan listrik secara bertahap.
Zakaria mengatakan sistem yang saling terhubung seperti jaringan listrik di Sumatera masih rentan karena gangguan transmisi yang disebabkan oleh cuaca ekstrem dapat dengan cepat menyebar ke seluruh wilayah.
Dalam kondisi seperti ini, langkah-langkah perlindungan dan pemulihan jaringan listrik harus dilaksanakan dengan hati-hati untuk mencegah ketidakstabilan yang lebih luas, katanya.
“Masalah utamanya adalah bagaimana penanganan dan normalisasi sistem dikoordinasikan untuk memulihkan stabilitas secepat mungkin,” kata Zakaria.
Berita terkait: Polisi Indonesia memastikan tidak ada sabotase di balik pemadaman massal di Sumatera
Berita terkait: Polisi memeriksa saluran transmisi Jambi pasca pemadaman massal di Sumatera
Penerjemah: Subagyo, Kenzu
Editor: Rahmad Nasution
Copyright © ANTARA 2026












