2 Kali Usaha Tutup, Kini Kuliahkan Anak dari Jualan Es Teh

2 Kali Usaha Tutup, Kini Kuliahkan Anak dari Jualan Es Teh

Di tengah dinamika ekonomi masyarakat Cileungsi yang terus berkembang, pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) masih menjadi sektor yang paling banyak mengandalkan pembiayaan dari perbankan, khususnya BRI. Skema Kredit Usaha Rakyat (KUR) menjadi pilihan utama dibandingkan kredit komersial seperti Kupedes.

Kepala BRI Cileungsi, Luki Perdana menjelaskan bahwa KUR lebih diminati karena memiliki bunga subsidi dari pemerintah serta persyaratan agunan yang lebih ringan. Hal ini membuat akses pembiayaan menjadi lebih mudah bagi pelaku usaha kecil.

Menurutnya, karakter masyarakat Cileungsi yang cukup beragam juga turut memengaruhi pola pembiayaan. Banyak pelaku UMKM merupakan pendatang yang tinggal di kontrakan dan belum memiliki aset tetap seperti sertifikat tanah untuk dijadikan jaminan kredit.

“Kalau Kupedes kan biasanya butuh jaminan seperti sertifikat tanah,” ujarnya.

Dari sisi aktivitas ekonomi, sektor perdagangan dan jasa masih menjadi penopang utama di wilayah tersebut. Kehadiran kawasan industri dan pabrik di sekitar Cileungsi ikut mendorong tumbuhnya usaha-usaha pendukung, mulai dari warung makan, kontrakan, hingga perdagangan di pasar.

“Perdagangan banyak di pasar-pasar. Kontrakan juga berkembang karena banyak pabrik,” kata Luki.

Meski demikian, tantangan ekonomi tetap dirasakan oleh para pelaku UMKM. Luki menyebutkan bahwa sebagian usaha yang sebelumnya berjalan baik kini mengalami penurunan omzet, yang berdampak pada kemampuan pembayaran angsuran.

Di sisi lain, jumlah debitur UMKM di BRI Cileungsi masih menunjukkan tren peningkatan. Saat ini, tercatat sekitar 4.800 hingga 5.000 nasabah aktif yang dibiayai melalui berbagai skema pembiayaan UMKM.

“Nasabah baru masih terus bertambah,” ujarnya.

Untuk melayani kebutuhan tersebut, BRI Cileungsi memiliki delapan petugas mantri lapangan yang secara langsung menangani penyaluran kredit. Setiap mantri rata-rata mampu menambah sekitar lima hingga tujuh debitur baru setiap bulan.

Namun, BRI tidak hanya fokus pada penyaluran pembiayaan. Pendampingan terhadap pelaku UMKM juga menjadi bagian penting dari proses, mulai dari awal pencairan hingga usaha berjalan.

“Fokus kami bukan hanya kasih modal, tapi juga mendampingi supaya usaha bisa naik kelas,” kata Luki.

Pendampingan dilakukan secara rutin oleh mantri lapangan, umumnya setiap satu hingga tiga bulan sekali. Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa dana pinjaman benar-benar digunakan untuk kegiatan usaha produktif.

Selain itu, BRI juga mendorong digitalisasi transaksi di kalangan UMKM. Hampir seluruh nasabah yang menerima pembiayaan kini langsung diarahkan untuk menggunakan QRIS sebagai metode pembayaran.

Setelah implementasi QRIS, mantri juga kembali turun ke lapangan untuk memberikan edukasi penggunaan aplikasi BRI Merchant serta sistem pembayaran digital lainnya.

“Mantri langsung yang mendampingi di lapangan,” ujarnya.

Menurut Luki, keberadaan UMKM yang terus berkembang juga memberi dampak positif bagi ekonomi sekitar. Tidak sedikit usaha yang kemudian mampu menyerap tenaga kerja dari lingkungan sekitar.

“Ada UMKM yang berkembang dan akhirnya membuka lapangan kerja baru,” katanya.

Ke depan, BRI Cileungsi menargetkan penyaluran pembiayaan UMKM dapat terus meningkat, baik melalui program KUR maupun skema pembiayaan lainnya, sejalan dengan upaya pemerintah dalam memperkuat sektor usaha kecil.

“Fokus kami tetap di pengembangan UMKM,” tutup Luki.

Tautan sumber