Napak Tilas Mengenang Perjalanan Gerilya Jendral Sudirman di Dusun Poleng

Kopatas.news|| Madiun – Dusun Poleng, Desa Cermo, Kecamatan Kare, Kabupaten Madiun di kenal dengan madu polengnya, masuk dalam kawasan Hutan Pinus Poleng(HPP) yang olah oleh LMDH(Lembaga Masyarakat Desa Hutan) Poleng. Wilayah ini masuk di pegunungan Wilis 2.563 mdpl puncak tertinggi Trogati Liman.

Di Kesempatan ini Stones Adventure menyelenggarakan sebuah Pendakian untuk mengenang gerilya Jenderal Soedirman. Rute yang ditempuh teramat berat karena melewati medan berbukit-bukit dan hutan yang amat lebat. Seringkali perjalanan berhenti untuk beristirahat sekaligus memakan perbekalan yang dibawa. Di Ds Poleng Cermo inilah sang Jendral melakukan perjalanannya yang di kenal warga sekitar dengan rute atau jalur Ombang-Ambing di bawa kaki Gunung Wilis. Kegiatan ini di hadiri oleh Letkol Kusbandono dinas di Lanud Iswahyudi dan LMDH (Lembaga Masyarakat Desa Hutan) Poleng. Dan peserta Tapak Tilas dari berbagai Komunitas, Organisasi ada yang dari Purwodadi, Cirebon, Semarang, Surabaya dan lain-lain nya.

Ada bukti peninggalan bahwa di area HPP ada pohon Durian besar dan Loji (gedung besar atau kantor atau benteng) kompeni masa penjajahan Belanda di Indonesia. Semoga di adakan kegiatan tapak tilas bersama-sama dan mendatangkan Narasumber bertema Krisis Edukasi Konservasi yang di Hadiri oleh CAK JIe_Soerabaja dari R-KomPAS (Rumah-Komunitas Pecinta Alam Senusantara) dan Bu Ning (Sri Wahyuningsih) Founder Sekolah Air Hujan Banyu Bening Sleman. Banyak ilmu yang bagikan oleh beliau-beliau ini yang selama ini mengkampanyekan Mitigasi dengan bener-bener melakukan nyata bukan sekedar teori atau seremonial saja.

CAK JIe menyampaikan konsep 5 M (menanam, menjaga, merawat, melestarikan, melindungi) untuk mempertahankan, menyelamatkan sumber mata air, dan menghidupkan sumber mata air yang mati, dengan menanam jenis Ficus(beringin) inilah antisipasi Krisis air bersih menjadi solusi, bencana tanah longsor, banjir dan lain-lain nya bisa di cegah, karena saat ini kita semua menyewa dari anak keturunan kita. Mulailah saat ini kita bersama-sama melakukan sebuah aksi dengan cinta kasih kepedulian kepada alam semesta bukan sekedar slogan salam lestari saja tapi ayo lestarikan alam ini dengan konsep 5 M yang sudah di smpaikan CAK JIe_Soerabaja.

Ada konsep 5 M lagi yang di smpaikan Narasumber berambut panjang, orang banyak mengatakan beliau seperti Pati Gajah Mada, konsep 5 M ini mengenai Sampah yang menjadi momok kita semua bagaimana agar Udara bersih, tanah yang kita pijak subur, sehat dari sampah plastik, dan kualitas air sumber, sungai, telaga bersih dari sampah. 5 M ini terdiri dari ;

  1. Mengurangi sampah plastik, kita menjadi Tauladan untuk tidak makan, minum kemasan, dan saat belanja tidak memakai kantong plastik.
  2. Mengganti makan, minum dengan tidak mengandung kemasan plastik, saat mendaki kita bisa mandiri dengan melakukan packing makanan yang sehat, mbawa air yang biasanya beli air mineral dengan botol kemasan bisa kembali atau di ganti Jerigen buat isi ulang dan tumbler.
  3. Mengambil sampah dimana di sekitar kita ada sampai yang tidak bisa terurai, banyak di sekitar kita sampah yang tertinggal ayo memulai peduli bahwa di bawa tanah ada makhluk Tuhan yang lainnya juga seperti kita ingin hidup bersih dan sehat.
  4. Memilah sampah yang sudah ada, Kuta kumpulkan dan pilah-pilah untuk menjadikan arti dan Manfaat yang baik.
  5. Memproses sampah dimana ada beberapa jenis sampah yang harus kita proses seperti sampah plastik menjadi bahan bakar, menjadi Batu Bata atau paving, yang organik bisa di manfaatkan untuk pupuk yang non kimia dan bisa banyak lagi kita bisa memprosesnya. Siapa lagi kalau bukan kita yang Peduli ungkap CAK JIe_Soerabaja dan beliau menyemangati dengan “Salam Lestari di jawab saudara-saudara yang hadir” Lestarikan Alam”.

Banyak hal ilmu yang di dapat di kegiatan Tapak Tilas Rute Gerilya ya Sang Panglima Soedirman ini, Bu Ning (panggilan akrabnya) menyampaikan segara detail dimana saat mendaki di waktu musim hujan, ada Konsep 5 M juga yang di smpaikan, dijelaskan secara detail oleh beliau. Mulai dari konsep pertama yaitu menampung, kita bisa menampung air hujan dengan wadah yang Kuta bawa seperti nasting atau playseet yang sudah kita bersihkan dulu dengan menunggu 10-15menit hujan pertama dengan volume air Hujan deras.

Yang ke dua mengelolanya seperti di rebus agar bakteri mati. Ke Tiga minum, ke empat menabung ya dan ke 5 mandiri. Mulai saat ini ayo kita rubah cara pandang kita bahwa air Huja itu kotor, air Hujan menyebabkan sakit dan lain-lain nya. Di waktu yang tepat kita tampung dan penfilterisasi(menyaring) kualitas air menjadi bersih, karena air hujan inilah sumber kehidupan di dalam kehidupan kita semua makhluk hidup yang di ciptakan Alloh SWT.

Bu Ning juga menyampaikan ayo menge al lebih dalam air Hujan ini dan peduli bahwa apa pernah selama kita hidup mengembalikan (menginjeksi) air hujan ke dalam tanah, perlu di ingat bahwa banyak makhluk hidup di dalam tanah juga membutuhkan air bisa dengan cari menggali buat cekungan, kalau di rumah bisa langsung di alirkan ke sumur atau buat sumur resapan. Inilah Salah satu solusi kita untuk mencegah bencana alam terjadi, baik tanah longsor yang juga harus bersama-sama kita bareng dengan penanaman dan Krisis air bersih bahwa saat ini Pulau Jawa, Bali, NTT Zona Merah Tua yang mengkhawatirkan, jika tidak Kita diam saja bisa akan terjadi lebih cepat akan Krisis air bersih di 2030 ini.

Semoga kegiatan ini yang di Support oleh Komunitas Kebo Kluyur, partisan yang lainnya membawa arti dan makna bagi kita semua dalam melakukan perubahan dengan kepedulian di mulai dari diri sendiri, keluarga dan di sekitar kita. Tidak lupa ada Muryani sebagai tokoh pribumi, bersama istri dan anak-anak nya yang rumahnya juga di jadikan BC. Pendakian, menjadi titik kumpulnya yang selama ini sangat semangat dan berpikir luas bagaimana sejarah ini jangan sampai dilupakan dengan sebuah konsep oleh mas Heru Purwanto di Stones Adventure yang memang begrond nya Pendaki, bagaimana saudara-saudara Pendaki, penggiat alam ini juga punya bekal agar peduli akan ekosistem, habitat area pendakian ini tetap alami dan bisa seimbang karena alamlah kita bisa hidup sampai detik ini.

Salam lestari, lestarikan alam.

(Mahmudi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

%d blogger menyukai ini: