Perwakilan Guru Mendapatkan Pengetahuan Pentingnya Air Hujan Serta 5M

kopatas news II Sleman, 15Juli 2022

Selama hidup ini apakah kita pernah terpikirkan bahwa ada mahluk tuhan yang lainnya di dalam tanah, sungai, udara yang statusnya sama seperti kita manusia mendapatkan fasilitas yang sama seperti makanan, minuman, oksigen dan lain-lainnya.
Kita sebagai makhluk Tuhan yang Mulia harus sadar dan peduli terhadap habitat, ekosistem yang ada di sekitar kita.

Dalam hal ini Kepala Pusat Studi Perdagangan Dunia (PSPD) UGM Dr. Riza Noer Arfani bekerjasama dengan Pusat Inovasi Agroteknologi (PIAT) UGM dan Janitra Bumi Indonesia (JBI) Education Consulting berkegiatan Circular School Program Partnership (CSPP) sebagai diseminasi dan pemdampin konsep dan praktek ekonomi sirkular dalam dunia pendidikan serta sebagai ajang para kepala sekolah pada tingkat sekolah dasar, menengah, dan atas dalam penyelenggaraan Indonesia Green Principal Award (IGPA) 2022 Batch 2 pada 14-16 Juli 2022 ini.

Dalam rangkaian Indonésia Green Principal Award 2022
di hari ke 2 pada 15 Juli 2022 semua peserta berkunjung ke Sekolah Air Hujan Banyu Bening dalam Yayasan Mutiara Banyu Langit yang ada di Jalan Rejodani Gang Tempursari, Kecamatan Ngaglik, Sleman – DIY.
Di sesi 4 & 5 Water Management System Sri Wahyuningsih, S. Ag memberikan Materi “Pemanfaatan Air Hujan, teknik pelaksanaan dan penerapannya di lingkungan sekolah dengan filosofinya”.

Kegiatan ini dilatari oleh 3 pertimbangan ;

  1. Keyakinan akan pentingnya mengembangkan ekonomi sirkular di Indonesia sebagai upaya penyelamatan lingkungan sekaligus peningkatan ekonomi,
  2. Kepesertaan kepala sekolah/madrasah dalam program ini karena memiliki peran yang sangat strategi sebagai agen perubahan (agen of change) sebagai pemimpin suatu komunitas pendidikan, kepala sekolah/madrasah adalah tokoh penyangga yang mengakomodasikan berbagai kepentingan baik para pendidikan maupun stakeholder di luar sekolah,
  3. peserta mendapatkan tantangan untuk terlibat aktif Agen Of Change baik secara mandiri dan bersama-sama atau bisa dalam kompetisi untuk bersaing kebaikan dalam pencegahan Krisis Edukasi Pendidikan dalam menghadapi Krisis Air bersih di negeri ini serta bertujuan memberi penguatan kapasitas para kepala sekolah dalam mengimplementasikan budaya ekonomi sirkular dan kearifan lokal tetap di wariskan ke pendidikan.

Banyak hal yang bisa dilakukan secara mandiri sebagai warga Indonésia yang mempunyai keanekaragaman dan sumber daya alam yang luar biasa agar mampu menjadikan seimbang kehidupan ini saling peduli bahwa air sumber pokok yang tidak bisa di pisahkan, misalnya tubuh kita jika sehari tidak minum pasti dehidrasi, pertanian juga membutuhkan penyiraman, sungai ada ikan dan binantang air lainnya yang tak lepas dari air.
Maka dari itu di Sekolah Air Hujan inilah Bu Ning sebagai Founder menjadi Narasumber yang memberikan penjelasan secara detail dengan Konsep 5 M (menampung, mengolah, minum, mandiri, dan menambung) serta mengajak dengan serius untuk menginjek (mengembalikan air hujan ke dalam tanah) seperti membuat sumur resapan, biopori dan lain-lainnya agar makhluk hidup di dalamnya tetap hidup dan adil merasakannya seperti kita.

Ada 3 point penting pembelajaran ini bagaimana merubah stigma masyarakat terkait air hujan dan mindset yang masih terfokus untuk eksploitasi air tanah karena mayoritas kita kurang kesadaran dan peduli untuk menginjeksi kembali air tanah secara sengaja dan serius..
Krisis air dan edukasi melalui dunia pendidikan ini diharapkan mampu membuka kebuntuan tentang lingkungan dan air hujan khususnya melalui anak didik di sekolah yang harapan besarnya menjadi agen perubahan dalam memperbaiki kondisi lingkungan yang ada di sekitar tempat tinggal dan sekolahan.

@SAH_banyubening

Editor &publisher: mahmudi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

%d blogger menyukai ini: