Manusia Gila Serta komunitas Baraka Menyuarakan Pentingnya Mitigasi Karena Bumi Ini Dalam Krisis

kopatas news II Wates, 15 Juli 2022

Ilmu Tuhan itu sangatlah luas sebagaimana luas alam yang sampai sekarang masih menjadi perdebatan mengenai ukuran dan bentuknya. Perihal penciptaan yang ada di langit dan bumi dalam rumus Tuhan tidak ada yang namanya sia-sia. Semua dapat kita pelajari dan tentunya terdapat manfaat yang dapat kita petik dari sana. Salah satu tugas manusia adalah belajar. Belajar disini bukan dalam artian duduk dibangku sekolah ataupun dunia perkuliahan. Tanpa kita sadari, Alam telah mengajarkan kita sebuah ilmu yang didalamnya terdapat kandungan yang dapat kita pelajari.

Alam sendiri terdapat berbagai macam unsur, mulai dari makhluk hidup dan benda mati. Bagi kalian yang sedang dalam fase mencari sebuah motivasi untuk bangkit, alam telah mengajarkan kita sebuah filosofi yang membuat kita termotivasi dan bangkit.
“Belajarlah dari lebah yang mencari makan tanpa merusak tempatnya”. Dalam hal ini kita malu harusnya yang mengambil hasil alam yang berlebihan tanpa memikirkan makhluk Tuhan lainnya.

Kesempatan kali ini media KOPATAS berkesempatan bertemu manusia gila yaitu CAK JIe_Soerabaja yang selama ini mensuarakan Mitigasi melalui Konservasi baik Menanam, memanfaatkan air hujan dan sampah. Siapa yang gak kenal beliau yang idealis dan apa adanya baik di dunia relawan atau pendakian.

Walau asli kelahiran Surabaya beliau jarang berada di Surabaya, dalam hidupnya yang utama adalah Silaturrahmi yang juga dituturkan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa ingin lapangkan pintu rizqi untuknya dan dipanjangkan umurnya hendaknya ia menyambung tali silaturahmi.” (HR. Bukhari).

KOPATAS mengikuti perjalanan silaturahmi ke Basecamp BARAKA di Jalan Anggrek RT 14 RW 02 Ds. Tempurejo Kec Wates-Kab. Kediri Jawa Timur. Bertemu orang-orang Gila juga yang luar biasa yang tidak banyak diketahui atau dikenal seperti mereka yang suka panggung atau seremonial dalam berkegiatan. BARAKA berangggotakan 13 orang, ada 10 kebu. Mandiri dan produksi.

Sambang, sambung, silaturahmi ini di temui Siswoko alias pak RT(pentol), Dayat alias mbah Kung Komandan Pucuk(Dancuk), Kowi berambut gondrong dan tidak asing juga ada Dokter Ari Purnomo Adi yang juga Ketua Yayasan Masyarakat Fokus Indonesia yang sudah mendeklarasikan sebagai Pusat Ficus Nasional (PFN) yang ada di area Buffer Zone Cagar Alam Manggis Gadungan, Kab. Kediri pada tanggal 23 Maret 2022. Mereka semua hamba-hamba Tuhan yang luar biasa, seolah-olah dalam hidupnya di abadikan untuk Alam dengan slogan “Salam lestari, lestarikan alam”.

Mereka semua melakukan dengan istiqomah dan tidak berharap imbalan, mereka jadikan sebuah kebutuhan sehari-harinya menjadi olahraga, “belajar dari semut meskipun kecil, mereka makhluk Tuhan yang pantang menyerah. Mereka semua patut diteladani dengan kesabaran yang luar biasa dengan melakukan mulai menanam, menjaga, merawat, melestarikan dan melindungi sangat serius penuh kasih sayang dan Cinta kasih bagaikan Sekeras-kerasnya batu bila tertimpa hujan akan retak juga, berlubang, hancur menjadi kerikil. Inilah pesan-pesan yang luar biasa yang dapat diambil pembelajaran untuk kita semua dalam menyikapi kondisi Bumi saat ini.

BARAKA ini akan siap Support bibit kepada siapa saja yang ingin membantu melestarikan alam yang sudah mengalami kehancuran, banyak bencana di tanah air ini sampai ke Krisis Air Bersih. Disinilah peran CAK JIe dan kawan-kawan BARAKA dan semua di luar sana melakukan untuk antisipasi, mencegah agar tidak lebih cepat di 2030 Jawa, Bali, NTT mengalami krisis air bersih.
Mari bersama-sama berolahraga merubah Manset agar Kuta lebih peduli dan memahami hidup yang sesungguhnya. Kita tidak bisa melakukan sendiri, tapi ayo bersatu, bersinergi mencontoh jika hanya satu lidi untuk menyapu tidak akan kuat dan optimal, bersatu menjadi satu ikatan melakukan bersama-sama, siapa lagi kalau bukan Kita, karena kita saat ini menyewa dari anak keturunan kita.
Semoga lebih banyak lagi CAK JIe dan BARAKA orang-orang Gila dalam Kepedulian alam semesta.

Salam lestari, lestarikan alam.

Editor &publisher: mahmudi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

%d blogger menyukai ini: