Tidak Ada Permintaan Ekspor, Harga Rajungan Kalah sama Bikicot

kopatas news II lamongan-Turunnya harga rajungan membuat nelayan merugi. Pasalnya, pendapatan dan pengeluaran tidak seimbang.
Alhasil, banyak nelayan yang menjual hasil tangkapan rajungannya ke pasar tradisional. Meski rajungan tidak terserap semuanya.

Ketua Himpunan Nelayan Tradisional Indonesia (HNTI) Lamongan Muchlisin Amar mengatakan, hingga saat ini harga rajungan masih di kisaran Rp 25 ribu per kilogram, dan belum menunjukkan tanda-tanda akan mengalami kenaikan. Muchlisin mengaku, saat ini harga Rajungan hasil tangkapan nelayan Lamongan masih kalah jauh dengan harga bekicot.

“Harga rajungan saat ini hanya Rp 25 ribu per kilogram. Kalah jauh dengan harga Bekicot yang sekarang mencapai Rp 60 ribu per kilogram,” kata Muchlisin Amar kepada wartawan,minggu (26/6/2022).

Muchlisin menyebut, sejak 2 bulan lalu harga rajungan di tingkat nelayan mengalami penurunan dari ratusan menjadi puluhan ribu Rupiah. Persisnya setelah Hari Raya Idul Fitri. MenuruT Muchlisin, harga rajungan di tingkat nelayan ini membuat mereka resah dan merugi.

“Sekali melaut menggunakan satu unit perahu nelayan di bawah 5 GT di Paciran ini rata-rata mampu membawa 15 sampai 20 kilogram saja. Untuk kemudian dijual dengan harga hanya segitu, sehingga banyak nelayan merugi karena biaya operasional yang dikeluarkan untuk mencari rajungan tak sebanding lurus dengan hasil tangkap yang didapat,” ujarnya.

Anjloknya harga rajungan ini, papar Muchlisin, ditambah dengan banyaknya pengusaha mini-plan atau penyuplai rajungan di kawasan Pantura Lamongan yang tutup. Hal itu membuat banyak nelayan yang menjual hasil tangkapan rajungannya langsung ke pasar-pasar tradisional

“Meski langsung dijual ke pasar tradisional pun, tidak semua rajungan tersebut terserap. Mata pencaharian masyarakat di sini adalah nelayan sehingga kita juga tetap melaut supaya dapur tetap ngebul,” imbuhnya.
Muchlisin berharap pihak terkait, utamanya Menteri Perdagangan (Mendag) untuk segera mengatasi kondisi ini demi kesejahteraan. Sementara, imbas dari anjloknya harga rajungan, banyak pengusaha mini-plan atau penyuplai rajungan di kawasan Pantura Lamongan yang tutup. Akibatnya, distribusi daging rajungan (meat crab) di sejumlah mini-plan itu pun banyak yang tersendat.

“Sudah 3 hari ini tak beroperasi. Ini saja masih ada 6 ton meat (daging kupasan rajungan), yang masih tersimpan di cold storage, dengan total senilai Rp 750 juta yang belum terserap,” kata Galih, salah seorang pengusaha mini-plan UD. Untung di Kecamatan Paciran.

Selain mini-plan milik Galih, setidaknya ada 7 mini-plan atau penyuplai rajungan di wilayah pantura Lamongan, yang juga tutup karena terimbas importir yang tidak menyerap daging rajungan karena alasan lesunya pasar internasional. Selain 7 mini-plan, ada sekitar 20 pengepul rajungan lokal yang juga tutup.

“Kita tidak tahu, sampai kapan harga ini bisa kembali normal. Kita juga tidak tahu, para eksportir itu kapan akan kembali membeli daging rajungan,” pungkas Galih.

Editor dan publisher: mahmudi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

%d blogger menyukai ini: