Kepala BNPB mendukung Kesiapsiagaan Krisis Air Bersih melalui SPAH Sistem Pengelolaan Air Hujan

kopatas news II sleman DIY-

Dalam upaya penguatan ketangguhan masyarakat dalam menghadapi bencana, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto,S.Sos.,M.M meninjau desa Tangguh Bencana pada Rabu (22/6/22) di Sekolah Air Hujan Banyu Bening di Tempurasari, SardonoHarjo, Ngaglik, Sleman.

Selain meninjau Destana Purwobinangun, Suharyanto mengunjungi komunitas Sekolah Air Hujan Banyu Bening dimana masyarakat setempat memanfaatkan air hujan untuk menunjang kebutuhan hidup dan mengantisipasi potensi bencana.

“Apabila terjadi bencana, yang paling sulit adalah kebutuhan pokok termasuk air. Upaya ini menjadi salah satu solusi dengan pemanfataan air hujan yang sebetulnya dapat langsung dikonsumsi tapi diolah kembali dengan teknologi sederhana sehingga dapat dirasakan manfaatnya lebih luas,” ungkap Suharyanto.

Suharyanto juga mengatakan bahwa pemanfaatan air hujan juga dapat memperkuat upaya pencegahan dalam menghadapi potensi bencana.

“Walaupun sudah memasuki pertengahan tahun dimana seharusnya sudah musim kemarau, namun masih sering terjadi hujan. Hal ini dapat dimanfaatkan untuk mengurangi dampak di daerah rawan banjir dan sebagai cadangan kebutuhan bagi daerah rawan kekeringan,” tuturnya.

Sekolah Banyu Bening merupakan gerakan murni dari masyarakat. Untuk itu Suharyanto menegaskan bahwa BNPB mendukung dan meminta untuk tidak berhenti dalam mengedukasi serta menyebarkan manfaat baik serta air hujan dalam menopang kehidupan masyarakat.

“Jangan berhenti, jangan bosan, tetap bergerak maju untuk menyebarkan manfaat baik air hujan bagi kehidupan masyarakat,” tuturnya

Dalam kesempatan tersebut, Kepala BNPB juga sebagai pembicara dalam Sarasehan “Memanen Air Hujan” yang diselenggarakan Yayasan Mutiara Banyu Langit.

Suharyanto menyampaikan bahwa disamping air tanah, air hujan juga layak dikonsumsi. Apalagi dalam situasi kebencanaan, yang menjadi konsen dari BNPB.

Di tanggap darurat, yang paling sulit adalah penyediaan air bersih. Apalagi Indonesia merupakan salah satu dari 35 negara yang sering mengalami bencana.

“Memanfaatkan air hujan baik langsung maupun setelah diolah, menjadi solusinya. Demikian pula untuk daerah yang mengalami kekeringan,” beber Suharyanto.

Dalam rancangan teknokratik, rencana pembangunan jangka menengah nasional 2020 hingga 2024 yang dikeluarkan oleh Kementerian PPN, kelangkaan air di Pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara diperkirakan meningkat hingga 2030.
“Tidak hanya segi kuantitas, tetapi juga kualitas air yang berpengaruh terhadap kesehatan masyarakat,” ujarnya.

Bahkan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan peringatan mengenai dampak serius perubahan terhadap ketersediaan air bersih di Indonesia.

Perubahan pola curah hujan yang ekstrem akan menyebabkan krisis air bersih jika tidak ditangani dengan serius.

Krisis air bersih terjadi akibat peningkatan kebutuhan air, terutama di kawasan perkotaan dan padat penduduk.

Sementara itu, perubahan iklim mengakibatkan kekeringan dan pencemaran udara yang menyediakan air bersih yang dibutuhkan masyarakat untuk air minum dan sanitasi

Kepala BNPB sangat mengapresiasi Sekolah Air Hujan Banyu Bening yang telah mengembangkan teknologi sehingga dapat meyakinkan masyarakat bahwa air hujan aman untuk dikonsumsi.

Sekolah Air Hujan Banyu Bening merupakan badan sosial dibawah naungan Yayasan Mutiara Banyu Langit yang konsen dalam upaya pemanfaatan air hujan untuk dapat dikonsumsi.

Konsep “Memanen Air Hujan” selalu mereka bagikan di setiap seminar maupun workshop yang mereka lakukan.

“Air merupakan hal utama dalam kehidupan, untuk itu kita perlu melakukan Konsep 5 M, yakni menampung, mengelola, minum, mandiri dan menabung,” terang ketua Yayasan Mutiara Banyu Langit, Hj. Sri Wahyuningsih, S.Ag.

Editor &publisher: mahmudi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

%d blogger menyukai ini: