Peninjauan Desa Tangguh bencana Oleh Kepala BNPB Serta melakukan Penguatan Ketangguhan masyarakat disekolah air hujan banyu bening

Kopatas news II sleman, 22 Juni 2022

Dalam penguatan ketangguhan masyarakat untuk menghadapi bencana melalui Deputi Pencegahan Dra. Prasinta Dewi, M. A. P. di Direktorat Kesiapsiagaan oleh Drs. Pangarso Soeryotomo yang juga Pembina Sekolah Air Hujan Banyu Bening, dengan bersama Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto, S.Sos., M.M.. meninjau langsung desa Tangguh Bencana di Sekolah Air Hujan Banyu Bening dalam naungan Yayasan Mutiara Banyu Langit yang berada di Tempursari rt 02 rw 27. Sardonoharjo. Ngaglik. Sleman-DIY.

Kunjungan ini juga di hadiri oleh IRTAMA, Deputi III, Kakordalops, Wakordalops, Tenaga Ahli Ka BNPB, Koorspri Ka BNPB, Stafsus Ka BNPB, ADC BNPB, Dokter BNPB, Spri BNPB, Humas BNPB, Tekjar BNPB, Protokol dan para Staf-staf nya beserta dari TNI, Polri, BPBD dan OPD lainnya dengan sinergiritas Pentahelix nya.

Pentahelix di sini adalah pihak atau helix yang memiliki peran, kepentingan maupun karakternya. Mereka terdiri dari pemerintah, masyarakat, dunia usaha, akademisi atau pakar dan media massa.

“Pencegahan dan penanganan bencana alam, tidak bisa dilakukan oleh satu pihak. Dalam hal ini, pentahelix adalah sebuah jawaban. Tinggal disesuaikan jurus pentahelix prabencana, tanggap darurat dan pascabencana. Sebab karakter masalahnya berbeda beda dan juga memperhatikan budaya dan kearifan lokal.

Ketua Yayasan Mutiara Banyu Langit Hj. Sri Wahyuningsih. S. Ag menyampaikan dalam pemapaparan bahwa Air adalah dasar utama dalam kehidupan ini dengan melakukan Konsep 5 M (menampung, mengelola, minum, mandiri, dan menabung). Bu Ning sapaan akrabnya mengajak kita semua secara sengaja di mulai sekarang bagaimana mengembalikan kembali air hujan ke dalam tanah, misalnya seperti buat sumur resapan, beopori dan lain-lain nya.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan peringatan mengenai dampak serius perubahan terhadap ketersediaan air bersih di Indonesia. Perubahan pola curah hujan yang ekstrem akan menyebabkan krisis air bersih jika tidak ditangani dengan serius. Hasil kajian dari Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN) atau Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) menyebutkan, dampak perubahan iklim selain krisis air bersih di tanah air, juga timbulkan kerugian ekonomi hingga 544 triliun rupiah selama 2020 hingga 2024.

Krisis air bersih terjadi akibat peningkatan kebutuhan air, terutama di kawasan perkotaan dan padat penduduk. Sementara itu, perubahan iklim mengakibatkan kekeringan dan pencemaran udara yang menyediakan air bersih yang dibutuhkan masyarakat untuk air minum dan sanitasi.

Dalam rancangan teknokratik, rencana pembangunan jangka menengah nasional 2020 hingga 2024 yang dikeluarkan oleh Kementerian PPN, kelangkaan air di Pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara diperkirakan meningkat hingga 2030. Tidak hanya segi kuantitas, tetapi juga kualitas air yang berpengaruh terhadap kesehatan masyarakat.

Krisis air merupakan masalah kita bersama. Kita harus saling bergandengan tangan untuk merealisasikan solusi yang telah dicanangkan supaya tidak terjadi fenomena semacam ini lagi di masa mendatang. Di samping itu, kita juga harus mawas diri dan saling mengingatkan orang-orang terdekat kita untuk menanamkan budaya peduli lingkungan. Kehidupan kita dan alam saling berkesinambungan. Maka dari itu, kita harus senantiasa menjaga alam agar alam pun bersahabat dengan kita. Alam tidak butuh kita, tapi kita yang membutuhkan alam.

@SAH_banyubening

Pewarta: wawan

editor &publisher: mahmudi, wawan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

%d blogger menyukai ini: