Sekolah air hujan Melakukan Paparan Manfaat Air

Kopatas news II Denpasar-Air Sumber Kehidupan

Ketika suatu hari kita dihadapkan pada paradoks air dan berlian (Diamond-Water Paradox) sebagai bekal untuk melanjutkan kehidupan, tentu tanpa berpikir panjang pilihan akan jatuh pada air. Bagaimana tidak? Seluruh makhluk hidup di bumi ini membutuhkan air untuk hidup.

Air merupakan molekul kimia penting bagi kehidupan seluruh makhluk di bumi. Salah satu faktor utama yang membuat bumi menjadi satu-satunya planet layak huni yaitu tersedianya air. Cairan air menutupi sekitar 70% permukaan bumi dengan 95,6% di laut, 4% di gletser, lapisan es, air tanah, danau, sungai, tanah (kelembapan), dan atmosfer. Namun, meskipun volume air di bumi terhitung melimpah, tetapi air yang layak guna terancam mengalami krisis.

Tantangan terkait dengan air saat ini meliputi langkanya ketersediaan air bersih, kurangnya infrastruktur manajemen air yang tahan terhadap perubahan iklim, serta tuntutan terhadap infrastruktur yang terjangkau oleh masyarakat. Ancaman krisis air tidak hanya menimpa masyarakat di wilayah tertentu, melainkan sudah menjadi ancaman bagi seluruh masyarakat dunia, termasuk di Indonesia.

Krisis air bersih terjadi akibat tingginya kebutuhan air baku. Terutama di kawasan perkotaan dan padat penduduk. Sedangkan, perubahan iklim mengakibatkan kekeringan dan pencemaran air yang mempengaruhi ketersediaan air bersih untuk air minum dan sanitasi.

Perlu juga waspada terkait ancaman bencana hidrometeorologi. Selain intensitas hujan yang semakin meningkat akibat perubahan iklim, juga kejadian curah hujan ekstrem diprediksi makin sering dengan durasi yang semakin lama, yang memicu terjadinya bencana hidrometeorologi. Bencana hidrometeorologi ini mencapai 98 % dari kejadian bencana yang terjadi di Indonesia. Realitas tersebut perlu diantisipasi dengan aksi nyata bersama seluruh elemen masyarakat, tidak hanya pemerintah tapi juga dunia usaha.

Di hotel Ramada tepatnya di Jl. Sunset Road No.9, Kuta, Kec. Kuta, Kabupaten Badung, Bali di mulai sejak tahun 2019 telah melakukan langkah peduli lingkungan salah satunya mengolah air hujan untuk di Konsumsi dan menginjeksi(memasukkan) kembali ke tanah. Seorang Manager Budi Armita yang bekerja di Hotel Ramada ini menggeluti mulai dari cara penampungan yang tepat, wadah yang tepat dan memaksimalkan Air Hujan dengan pnyetruman(Elektrolisis) untuk memisahkan air basa dan asamnya.

Hotel Ramada telah membuat acara sharing knowledge menghadirkan Sri Wahyuningsih(Bu Ning) Founder Sekolah Air Hujan Banyu Bening Sleman-DIY menjadi Narasumber dan di hadiri juga Pabung Kodim 1611/Badung Letkol Inf Dewa ketut Darmada S.E, M.A.P dan Peltu Jodi Siahaan, S.IP yang selama ini mengurusi dan Bertanggung jawab SPAH(Sistem Pengelolaan Air Hujan) di Kodim, dan di hadiri Babinsa dari 8 Koramil di bawa jajaranya.
Serta dari Yayasan Al Hikmah Joglo yang di Ketuai Haji Maskuron beserta Jamaahnya.

Bahwa selama ini Hotel Ramada memberikan perubahan di dalam Kepedulian akan lingkungan untuk menjadi lebih Baik, hidup sehat dengan memanfaatkan air hujan sampai harus uji klinis agar di internal mengerti bahwa air hujan sangat bermanfaat dengan kualitas bagus. Harapan besar kita semua jika semua Hotel memanfaatkan Air Hujan secara maksimal dan mengembalikan lagi ke tanah ini akan menjadi solusi akan kelangkaan Air Bersih dan bencana Hedrometologi ucap Budi Armita.
Dalam gerakan 5M (menampung, mengelola, minum, mandiri, dan manabung) mampu memperlambat dan mengurangi resiko bencana yang ada di pulau bali ini.

@SAH_banyubening

editor &publisher: mahmudi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

%d blogger menyukai ini: