Motor Listrik Inovasi Baru GO-JEK &Grab

Kopatas.news II – Jumat (20/5/2022) sore, salah satu impian Steven Danis (26) menjadi kenyataan. Bukan cita-cita, tidak muluk-muluk, tetapi penting untuk masa depan, yaitu naik motor listrik.

Steve, begitu dia biasa dipanggil, bukan membeli motor listrik. Dia tidak sengaja dapat mitra driver ojek online (ojol) yang mengendarai motor listrik sewaktu memesan untuk pulang.

Saat itu ia memesan dari stasiun MRT Fatmawati, Jakarta Selatan, menuju kawasan Pondok Labu. Setelah mendapat driver, di aplikasi tidak tertera jenis motor.

Lelaki yang bekerja di bidang media sosial itu terkejut ketika yang datang adalah motor listrik. Ia pun bertanya-tanya ke pengemudi beratribut Gojek tersebut.

Menurut pengakuan pengemudi, di aplikasi sebenarnya ada opsi untuk memilih Go-Ride Elektrik layanan khusus motor listrik, tetapi Steve tidak menemukannya meski sudah di-update.

“Mungkin karena masih beta (update aplikasinya), (jadi) belum tersedia di semua pengguna,” ujar Steve saat dihubungi Kopatas.news,jumat (20/5/2022).

Namun, Steve tidak mempermasalahkannya. Dia sudah kepalang senang karena satu, impian naik motor listrik tercapai, dan yang kedua–tentu saja–bisa pulang.

Motor listrik bermerek Electrum dengan lis biru di plat hitam itu pun melaju mulus di jalanan Jakarta. Kondisi jalan belum terlalu macet karena masih di bawah pukul 4 sore, belum jam pulang kantor pada umumnya.

Kata Steve, lis biru di plat nomor adalah penanda kendaraan listrik. Biasanya juga terdapat di mobil atau motor listrik pabrikan lain.

“Dari kecepatan biasa aja sih kayak motor biasa, enggak macet juga kebetulan. Sebelum jam 4 sore waktu itu ordernya.”

“Nyaman berkendara. Yang utama enggak berisik, enggak ada bunyi apa pun. Jadi cuma duduk udah abis itu jalan gitu. Rem atau segala macem enggak ada suara sama sekali.”

“Paling cuma (suara) nguuungg… itu ciri khasnya gitu. Engga kerasa getar sama sekali. Aman, mulus, lancar,” urainya.

Electrum, Pertamina, Gogoro, dan Gesits berkolaborasi demi terwujudnya ekosistem kendaraan listrik di Indonesia

Pengalaman driver ojol naik motor listrik
Berbeda dengan Steve yang baru melakoni debut naik motor listrik, Ismail (40) sudah mengendarai kendaraan yang penyebutannya bisa disingkat menjadi molis itu sejak Desember 2021.

Ia merupakan mitra driver Gojek pertama yang menggunakan motor listrik.

Sebelumnya Ismail mengaspal menggunakan sepeda motor konvensional, dan setelah beralih ke molis ia mengaku selisih biaya operasionalnya lumayan besar, lebih irit motor listrik hingga Rp 600.000 sebulan.

Tarif sewa motor listrik Gojek Rp 40.000 per hari, tidak jauh berbeda dengan pemakaian BBM Rp 45.000 sehari (saat Pertamax masih Rp 9.600/liter), tetapi itu belum termasuk servis berkala dan ganti oli setiap dua minggu sekali.

“Dengan pakai molis, saya sewa merek Gogoro Rp 40.000/hari, gratis swap baterai dan perawatan (ditanggung pihak Gojek),” ungkapnya saat dihubungi Kopatas.news, sabtu (21/5/2022).

“Molis yang saya gunakan, driver tidak melakukan pengecharge-an mandiri, Gojek bekerja sama dengan Pertamina menyediakan swapping station. Saat baterai mau habis saya cukup menukarnya dengan yang sudah full (penuh) di SPBU. Kurang dari satu menit prosesnya”.

“Keuntungannya, irit dan saya bisa menyisihkan sebagian penghasilannya untuk ditabung. Selisih dengan motor bensin besar sekali mas,” imbuhnya.

Ismail turut menjelaska

Jumat (20/5/2022) sore, salah satu impian Steven Danis (26) menjadi kenyataan. Bukan cita-cita, tidak muluk-muluk, tetapi penting untuk masa depan, yaitu naik motor listrik.

Steve, begitu dia biasa dipanggil, bukan membeli motor listrik. Dia tidak sengaja dapat mitra driver ojek online (ojol) yang mengendarai motor listrik sewaktu memesan untuk pulang.

Saat itu ia memesan dari stasiun MRT Fatmawati, Jakarta Selatan, menuju kawasan Pondok Labu. Setelah mendapat driver, di aplikasi tidak tertera jenis motor.

Lelaki yang bekerja di bidang media sosial itu terkejut ketika yang datang adalah motor listrik. Ia pun bertanya-tanya ke pengemudi beratribut Gojek tersebut.

Menurut pengakuan pengemudi, di aplikasi sebenarnya ada opsi untuk memilih Go-Ride Elektrik layanan khusus motor listrik, tetapi Steve tidak menemukannya meski sudah di-update.

“Mungkin karena masih beta (update aplikasinya), (jadi) belum tersedia di semua pengguna,” ujar Steve saat dihubungi Kopatas.news, jumat(20/5/2022).

Namun, Steve tidak mempermasalahkannya. Dia sudah kepalang senang karena satu, impian naik motor listrik tercapai, dan yang kedua–tentu saja–bisa pulang.

Motor listrik bermerek Electrum dengan lis biru di plat hitam itu pun melaju mulus di jalanan Jakarta. Kondisi jalan belum terlalu macet karena masih di bawah pukul 4 sore, belum jam pulang kantor pada umumnya.

Kata Steve, lis biru di plat nomor adalah penanda kendaraan listrik. Biasanya juga terdapat di mobil atau motor listrik pabrikan lain.

“Dari kecepatan biasa aja sih kayak motor biasa, enggak macet juga kebetulan. Sebelum jam 4 sore waktu itu ordernya.”

“Nyaman berkendara. Yang utama enggak berisik, enggak ada bunyi apa pun. Jadi cuma duduk udah abis itu jalan gitu. Rem atau segala macem enggak ada suara sama sekali.”

“Paling cuma (suara) nguuungg… itu ciri khasnya gitu. Engga kerasa getar sama sekali. Aman, mulus, lancar,” urainya

Electrum, Pertamina, Gogoro, dan Gesits berkolaborasi demi terwujudnya ekosistem kendaraan listrik di Indonesia

Pengalaman driver ojol naik motor listrik
Berbeda dengan Steve yang baru melakoni debut naik motor listrik, Ismail (40) sudah mengendarai kendaraan yang penyebutannya bisa disingkat menjadi molis itu sejak Desember 2021.

Ia merupakan mitra driver Gojek pertama yang menggunakan motor listrik.

Sebelumnya Ismail mengaspal menggunakan sepeda motor konvensional, dan setelah beralih ke molis ia mengaku selisih biaya operasionalnya lumayan besar, lebih irit motor listrik hingga Rp 600.000 sebulan.

Tarif sewa motor listrik Gojek Rp 40.000 per hari, tidak jauh berbeda dengan pemakaian BBM Rp 45.000 sehari (saat Pertamax masih Rp 9.600/liter), tetapi itu belum termasuk servis berkala dan ganti oli setiap dua minggu sekali.

“Dengan pakai molis, saya sewa merek Gogoro Rp 40.000/hari, gratis swap baterai dan perawatan (ditanggung pihak Gojek),” ungkapnya saat dihubungi Kopatas.news, jumat (20/5/2022).

“Molis yang saya gunakan, driver tidak melakukan pengecharge-an mandiri, Gojek bekerja sama dengan Pertamina menyediakan swapping station. Saat baterai mau habis saya cukup menukarnya dengan yang sudah full (penuh) di SPBU. Kurang dari satu menit prosesnya”.

“Keuntungannya, irit dan saya bisa menyisihkan sebagian penghasilannya untuk ditabung. Selisih dengan motor bensin besar sekali mas,” imbuhnya.

Ismail turut menjelaskan, sekali ganti baterai rata-rata bisa menempuh perjalanan 100-an kilometer.

Selama memakai motor listrik Ismail mengaku tidak pernah mengalami kendala serius. Terkadang shock breaker berbunyi dan ternyata ada setelannya.

Motor listrik Gojek berjenis Gogoro (kiri) dan motor listrik Grab berjenis Swap Tempur
Motor listrik, masa depan ojek online
Gojek dan Grab, dua platform ride-hailing terbesar di Indonesia, sama-sama sudah menyediakan armada motor listrik.

Gojek saat ini mengoperasikan ratusan motor listrik Gesits dan Gogoro yang beroperasi di Jakarta.

Penyedia motor listriknya adalah Electrum, perusahaan patungan Gojek dan TBS Energi Utama (TBS) berkolaborasi dengan beberapa perusahaan lainnya.

Senior Vice President (SVP) Corporate Affairs Gojek Rubi Purnomo pada sabtu (21/1/2022) mengatakan kepada kopatas. News, pada tahap awal Gojek akan menggunakan 500 motor listrik di Jakarta Selatan.

Adapun alasan pengenaan tarif penyewaan motor listrik karena pengguna tidak akan dikenakan biaya perawatan kendaraan serta pengisian baterai pengganti bahan bakar minyak (BBM). Biaya perawatan kendaraan sepenuhnya ditanggung oleh Gojek.

Pada kesempatan terpisah Rubi mengungkapkan, Gojek akan terus mengembangkan penggunaan motor listrik secara bertahap.

“Gojek, sebagai bagian dari Grup GoTo memiliki komitmen Zero Emissions (Nol Emisi Karbon) yaitu menjadi platform karbon-netral dan menargetkan armadanya 100 persen kendaraan listrik di 2030,” ujarnya kepada kopatas News, sabtu (21/5/2022).

Sementara itu, Grab Indonesia mengeklaim sejak 2019 sudah memiliki 8.500 kendaraan listrik yang didominasi roda dua.

Grab menargetkan total 14.000 armada kendaraan listrik bisa mereka hadirkan pada akhir 2022.

Armada motor listrik Grab Bike yang diakomodir Smoot Motor

Terbaru, Grab Indonesia memiliki motor listrik Smoot Tempur berkat kerja sama dengan PT Smoot Motor Indonesia.


Sama seperti Gojek, Grab juga mengoperasikan kendaraan listrik dengan skema rental kepada mitra driver, dengan biaya pemeliharaan sepenuhnya ditanggung Grab.

“Dengan jumlah (armada) tersebut kita sudah membantu mengurangi emisi karbondioksida hingga 4.600 kilogram, setara dengan menanam 260.000 pohon,” kata President of Grab Indonesia Ridzki Kramadibrata dikutip dari Kopatas.news(21/3/2022).

Apabila target Gojek dan Grab ini tercapai, bisa dikatakan bahwa motor listrik adalah masa depan ojek online.

Polusi suara dan udara yang biasanya menjadi momok pengendara roda dua bisa berkurang. Antrean mengular di SPBU pun dapat terurai, karena orang-orang bisa mengisi daya baterai motor listriknya di rumah.

Impian ini sudah tersemat di kepala Steve dan Ismail. Mereka mendambakan motor listrik sebagai kendaraan masa depan.

“EV (Electric Vehicle/kendaraan listrik) dipandang masyarakat luas sesuatu yang mahal. Sebenarnya enggak juga, karena kita di situ juga kan ada investasi (untuk beralih ke energi terbarukan),” kata Steve.

“Dengan kita mendukung gerakan EV ini kan berarti dalam tanda kutip kita ngurangin polusi udara dan lain-lain, apalagi Jakarta makin lama kualitas udaranya makin buruk.”

Charging Station Pertamina

Steve lalu menyarankan, charging station harus digalakkan dalam berminat membeli motor listrik jika nantinya sudah diproduksi massal di dalam negeri.

Ia menyarankan, harga sebaiknya terjangkau untuk dirinya dan rekan-rekan mitra pengemudi lainnya.

Menurut Steve, ojek online bisa membantu memasarkan motor listrik. Perbandingan konsumsi bahan bakarnya bisa jadi pertimbangan.

“Kalau driver-nya kepancing (tertarik memakai motor listrik), konsumennya juga nanti akan nyari,” pungkas Steve.

Editor & publisher: mahmudi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

%d blogger menyukai ini: