Halaman DPRD Dan PEMPROV JATIM Diserbu Gerombolan Tikus, Ada Apa??

Kopatas.News || Surabaya – Sejumlah masyarakat yang tergabung dalam wadah Asosiasi Seniman LIRRA Indonesia “ASLI” jawa timur memperingati hari anti korupsi sedunia yang jatuh pada 9 desember dengan melakukan aksi demonstrasi turun kejalan menyampaikan beberapa tuntutannya di berbagai kantor pemerintahan dan gedung rakyat provinsi jawa timur.

Aksi teatrikal jalanan dari para seniman ASLI itu menyampaikan aspirasi satire dan pesan moral kepada masyarakat dengan cara berakting menjadi segerombolan manusia berkepala tikus / koruptor yang merepresentasikan sifat rakus, culas, dan pembuat keonaran di tengah masyarakat dan kantor pemerintahan.

Ketua ASLI jawa timur Abdoel Semut mengatakan, inilah wujud tikus binatang rakus yang berasal dari tempat kotor dan berada di semua tempat seperti di dapur, gorong-gorong, pasar, kolong infrastruktur public, hingga di kantor para elit pejabat, ujarnya kepada media jumat/10/12/2021 di depan balai kota surabaya.


Tikus ini kerjanya memakan appapun yang ada didepannya tanpa peduali itu haknya atau bukan.

Tikus ini cerdik, licik, dan mempunyai banyak tipu muslihat untuk merampas padi di lumbung, dan pada akhirnya rakyat menjadi kelaparan karena ulah tikus-tikus cecunguk itu, jelas Semut yang juga influencer di kanal Sabda Aksara Channel itu.
Senada, anggota ASLI lainnya cak Sapta menyatakan para tikus dan koruptor harus diberangus tanpa harus membakar lumbungnya.

“Memang sulit berburu tikus hari ini, karena mereka semakin cerdas menghindari kerjaran para pemburu. Apalagi kalau para kucing / pemburu sudah terkena jurus maut dan rayuan para tikus-tikus itu, ujarnya. Perlu strategi dan ubo rampe khusus agar gerombolan tikus masuk perangkap dan kemudian kita basmi bersama-sama, papar Sapta yang juga kolektor barang-barang pusaka leluhur itu”.

Sapta menambahkan, pihaknya mewakili seniman jawa timur akan senantiasa membuat aksi-aksi seperti ini sebagai wujud eksistensi pergerakan para seniman sekaligus menandai akar bangkit gerakan social dengan latar belakang seni dan kebudayaan. Sekaligus hal ini menjadi OASE dan cara baru masyarakat untuk menikmati pertunjukan kesenian dan kebudayaan baru lewat aksi-aksi seperti ini,pungkas Sapta.

Pada aksi teatrikal yang diperankan oleh anggota Asosiasi Seniman Lira Indonesia “ASLI” jawa timur yang berkolaborasi dengan mahasiswa UNTAG, kkelompok jaranan asal sidoarjo dan anggota DPD LSM LIRA kota Surabaya itu, para seniman memakai topeng tikus dan membuat keonaran di halaman DPRD jawa timur, kantor pemprov jawa timur, gedung grahadi, kantor DPRD kota Surabaya dan berakhir di balai kota Surabaya.

Selain memakai topeng tikus, para seniman juga menampilkan aksi jaranan dan menghadirkan sosok warok untuk membuat aksi teatrikal menjadi lebih bermakna dalam balutan seni dan budaya yang akrab denganmasyarakat kecil.

(Mahmudi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: