Blusukan Ke Goa Semar, LIRA Jatim Dukung Potensi Wisata Religi di Pasuruan

KOPATAS.NEWS II PASURUAN – Pengurus Dewan Perwakilan Wilayah Lembaga Swadaya Masyarakat Lumbung Informasi Rakyat “DPW LSM LIRA” Jawa Timur, melakukan blusukan untuk menghadiri undangan pagelaran wayang kulit pada sabtu/20/11/2021 di Goa Semar yang terletak desa Ngadirejo, kecamatan Tutur, kabupaten Pasuruan jawa timur.

Hal ini disampaikan oleh wakil gubernur LIRA Jawa Timur Ayik Suhaya saat melakukan sambutannya dalam acara pembukaan pagelaran wayang kulit dengan lakon Semar Mbangun Kayangan itu.

Kata Ayik suhaya
“Syukur Alhamdulillah, salam sejahterah dan terimakasih telah mengundang saya dalam acara yang sangat bagus ini. Juga, saya sampaikan salam hormat mewakili LIRA Jawa timur kepada semua jajaran pemerintah desa, ki dalang dan warga masyarakat yang sudah menghadiri acara ini, kata Ayik mengawali sambutannya”.
“Perlu saya sampaikan kepada pak dalang dan pak kepala desa, event ini jangan digelar hanya sekali saja. Event ini harus digelar setiap tahun, karena bagi saya tempat ini punya potensi wisata yang cukup tinggi, jelas Ayik yang juga anggota asosiasi seniman lira Indonesia / ASLI JATIM itu”.


“Pihaknya sebagai tokoh pemerhati budaya dan mewakili NGO “LIRA” memberikan saran kepada bupati pasuruan, pemerintah desa dan masyarakat agar lebih memperhatikan Goa Semar karena mempunyai potensi yang tinggi untuk menjadi destinasi wisata religi”.
“Kedepannya harus dibangun parkiran, akses jalan yang memadai, warung, dan toko souvenir. Dan hal ini akan otomatis berdampak pada perekonomian warga dan dapat mengentas kemiskinan, papar pria asal kota pasuruan itu”.
“Tadi saya dapat bisikan dari pak edhi ketua paguyuban, katanya mau mengirim proposal ke pemerintah. Monggo nanti saya kawal, kebetulan saya kenal baik dengan pak bupati, pak sekda, pak kadis pariwisata dan budaya di pasuruan, imbuhnya”.
“Terakhir yang paling penting, bagi dulur-dulur yang hari ini datang untuk menyambung roso dengan eyang semar semoga dapat kemuliaan dari Alloh subhanallohwataalah. Saya sangat merasakan itu, ungkap Ayik”.
Sementara itu, kepala desa Ngadirejo Mulyono turut mengucapkan terimakasih kepada Ayie Suhaya mewakili LSM LIRA Jawa Timur dan segenap masyarakat yang telah menghadiri pagelaran wayang kulit ini, ujarnya

mengutip sambutannya”.
“Bapak Ibu sekalian, semoga mengawali acara yang tidak mudah kita laksanakan ini, dapat memberikan kemakmuran dan kesejahteraan bagi wargamasyarakat, harap lurah ngadirejo itu”.

“kata Mulyono juga mengucapkan terimakasih kepada semua pihak diantaranya, anggota paguyuban, tokoh masyarakat, perhutani, LMDH, pemerintahan desa, aparatur desa, hingga RT / RW dan tokoh agama hindhu, muslim, kristen dan lainnya yang telah kerja bakti dalam upaya melaksanakan pembukaan Goa Semar yang berjalan dengan baik, katanya”.
Diketahui, acara pembukaan Goa Semar yang terletak di desa ngadirejo, kecamatan tutur, kabupaten pasuruan itu dimeriahkan dengan pagelaran wayang kulit yang dipimpin oleh

Ki dalang Winarno Sabdo dari pegunungan tengger. Adapun lakon yang diangkat adalah “SEMAR MBANGUN KHYANGAN” yang memantik antusiasme pengunjung semalam suntup.
Dikutip dari beberapa sumber, Gua Semar di Desa Ngadirejo, Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan,

dipercaya warga memiliki “air suci”. Air itu diyakini bisa menyembuhkan beragam penyakit.
Gua tersebut berada di kaki Gunung Bromo. Kondisinya masih perawan, belum tersentuh pembangunan. Wisatawan yang berkunjung ke Bromo bisa mampir ke Gua Semar ini ketika melewati jalur Purwodadi.
Sukarji, dukun asal Desa Mororejo, Kecamatan Tosari, menjelaskan,

gua ini sudah ada sejak zaman Kerajaan Singasori. Bahkan, salah satu tokoh pada masa Kerajaan Singosari pernah mampir dan istirahat di gua itu. Yakni, Eyang Semar.
Itulah mengapa, gua itu kemudian disebut Gua Semar. Saat itu, Semar hendak menuju ke Gunung Semeru. Dia melewati jalur Bromo. Kemudian, istirahat di gua tersebut.

“Ceritanya begitu. Jadi Eyang Semar pernah beristirahat di gua ini saat perjalanan ke Semeru,” katanya.
Bahkan, sampai sekarang ada bukti bahwa Eyang Semar pernah istirahat di gua itu. Di gua itu, ada sebuah bekas orang duduk.
“Itu buktinya. Ada cap bokong di dalam gua. Itu katanya dulu Eyang Semar duduk di situ. Terlihat jelas seperti dicetak,” katanya.
Di dalam gua itu juga ada sebuah sumber air yang keluar dari batu. Dari dulu hingga sekarang, sumber air itu terus mengalir. Bahkan, debitnya tambah besar. Terbukti meskipun dialirkan untuk memenuhi kebutuhan warga, air itu tetap ada.
“Tidak kurang sedikit pun. Jadi, airnya terus ada, bahkan lebih besar. Ini air muncul dari dalam batu,” tuturnya.

(Mahmudi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: